Analisis Arah PLN Mengatasi Ketersediaan Listrik Nasional

17 Oct 2014

8d53090abd6ff8aad6c90885d3cc2c64_pln

Saat ini media blog adalah media penting dalam hal membangun ide atau branding perusahaan dengan menyertakan blogger menuliskan idenya. Apresiasi yang tinggi untuk pihak PLN yang menyediakan ruang dengan lomba ini buat para blogger seperti penulis ini menuliskan idenya di media blog.

Listrik adalah sebuah kebutuhan pokok untuk keluarga dan masyarakat luas sebagai kebutuhan dalam tetap meningkatkan kesejahteraan bersama dalam peradaban saat ini.

Banyak hal dalam kehidupan ini memerlukan listrik. Beberapa diantaranya : penerang di malam hari, pompa air, peralatan dapur, audio video seperti televisi, perkantoran, pabrik, penerang jalan, rumah makan dan lain sebagainya.

Sumber pembangkit listrik ada banyak diantaranya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan lain sebagainya.

Di Indonesia PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), berperan penting dalam mengurusi semua aspek kelistrikan ini, mulai penyediaan per kewilayahan, pembangkitan, distribusi, pengaturan beban, dan segala aspek sehingga kebutuhan listrik masyarakat di Indonesia tercukupi.

Tulisan ini coba mengeksplorasi secara sederhana masukan untuk blue print kelistrikan yang bisa mengatasi ketersediaan listrik di Indonesia dalam jangka panjang dan peran PLN di dalamnya.

Perihal teknis penyediaan, pembangkitan, pengaturan beban dan distribusi penulis percaya bahwa PLN telah mampu dan bisa berkembang ke arah lebih baik pada kondisi saat ini dan di masa depan.

Tulisan ini lebih ke arah Ideku untuk PLN yaitu sumbang saran sederhana arah PLN saat ini dan di masa depan.

Kenapa PLTA ?

Menurut data statistik PLN, biaya listrik dasar per tahun 2013 adalah Rp. 1.380 / kWh, sedangkan harga jualnya adalah Rp. 818 /kWh. Dengan demikian perlu ada subsidi dalam hal ini Rp. 562 / kWh atau dari data penggunaan listrik dari produksi PLN saja untuk tahun 2013 diperkirakan ada subsidi 163.966 GWh x Rp. 562 /kWh atau sekitar lebih dari 92 triliun rupiah.

Berdasarkan data statistik PLN 2013, 3 besar urutan biaya pembangkitan rata-rata tahun 2013 termurah sampai termahal adalah PLTA Rp. 166,66 / kWh, PLTU Rp. 719,52 / kWh dan PLTP Rp. 1.103,50 / kWh. Biaya tersebut tentunya belum termasuk biaya pembangunan Pembangkit Listrik tersebut.

Jika merunut pada harga jual Rp. 818 / kWh maka sebaiknya pembangkitan listrik supaya mengurangi subsidi adalah PLTA dan PLTU. Untuk dapat mengurangi subsidi kelistrikan tentunya pembangunan pembangkit listrik prioritas pembangunan PLTA lebih baik dari pada PLTU. Pembangkit Listrik yang dianjurkan tentu PLTA karena biaya pembangkitannya paling murah yaitu Rp. 166,66 /kWh (data 2013) jauh lebih rendah dari harga jual rata-rata Rp. 818 / kWh.

Perkiraan Kebutuhan, Pemenuhan Listrik Nasional, dan Potensi PLTA

Berdasarkan rasio elektrifikasi yang menunjukkan selalu ada pertumbuhan, tahun 2013 di luar pengguna PLN besaran rasio elektrifikasi adalah 78,06%. Produksi PLN per tahun 2013 adalah 216.189 GWh.

Dengan data tersebut seharusnya ada kebutuhan sebesar 277 TWh. Sehingga secara perhitungan kasar dapat diperkirakan ada kebutuhan mendesak setidaknya 61 TWh atau pembangkit listrik sebesar 7 GW kapasitas pembangkitan.

Singkatnya, dalam waktu dekat diperlukan atau ada kebutuhan mendesak untuk pembangunan pembangkit listrik sebesar 10 GW.

Secara potensi menurut Komite Nasional Indonesia (World Energi Council) dari hasil Lokakaryanya tahun 1993, PLTA di Indonesia mempunyai potensi lebih dari 74,9 GW, tersebar di seluruh Indonesia terbesar di Papua, Kalimantan dan Sumatera. Potensi di Pulau Jawa hanya 4,2 GW.

Dengan demikian kebutuhan 10 GW bisa dipenuhi dari PLTA sebagian besar atau seluruhnya. Data akurat di lapangan perlu mempertimbangkan pemetaan dari potensi per wilayah.

Kebutuhan 10 GW itu adalah kebutuhan mendesak, namun dengan pertimbangan berikut yaitu :

  1. pemakaian listrik di Indonesia yang masih rendah,
  2. pertumbuhan perekonomian dan industri, dan
  3. pertumbuhan jumlah penduduk

kebutuhan pembangkit lsitrik 10 GW harus ditingkatkan lagi.

Three Gorges Dam vs PLTA Cirata

Three Gorges Dam adalah salah satu PLTA terbesar di dunia, berada di Sandouping, Yiling, Hubei, China. Pembangunan sudah direncanakan jangka panjang jauh-jauh hari perihal potensi Sungai Yangtze itu oleh Sun Yat Sen dalam The International Development of China tahun 1919.

Realisasi pembangunan cukup panjang 15 tahun, dimulai 14 Desember 1994 dan selesai serta beroperasi penuh tahun 2009 dengan biaya diperkirakan 26 miliar USD.

Kapasitas Three Gorges Dam adalah sebesar 22,5 GW dengan menghasilkan pembangkitan sampai 80 TWh, mencakup turbin 32 x 700 MW dan 2 X 50 MW Francis-type.

Perkiraan perhitungan aksar, satu PLTA Three Gorges Dam ini bisa memenuhi penyediaan seluruh penyediaan PLN untuk residential tahun 2013 yaitu untuk 50 juta pemukiman.

PLTA Cirata yang beroperasi sejak 1988 dan tahap kedua 1997 adalah PLTA terbesar di Asia Tenggara.

Kapasitasn PLTA Cirata adalah 8 x 126 MW atau total 1008 MW. Produksi rata-ratanya 1.428 GWh.

PLTA Cirata terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Kapasitas tersebut diperkirakan bisa memenuhi penyediaan PLN untuk 900 ribu residential tahun 2013.

Besaran kapasitas PLTA Cirata adalah 1 /54 dari PLTA Three Gorges DAM.

Peran Serta Stake Holder Kelistrikan

Untuk mencapai ketersediaan pembangkit listrik tersebut memang bukan hanya peran dari PLN tetapi seluruh stake holder kelistrikan yaitu PLN, Menteri BUMN, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, Presiden dan Wapres, DPR, asosiasi kelistrikan, dan rakyat pengguna.

PLN dan pemerintah berperan menyediakan listrik yang cukup dan selalu bisa digunakan dengan andal dalam ketersediaan.

Presiden dan Wapres beserta DPR dalam mengakomodasikan kebutuhan pendanaan dalam proyek pembangkit listrik yang tidak sedikit.

Asosiasi kelisttrikan dan rakyat pengguna dalam kontrol atas ketersediaan listrik dan harga lsitrik yang cukup dijangkau oleh rakyat pada umumnya.

Jika menilik data di atas, berdasarkan hitungan pembangunan Three Gorges DAM tersebut pembangunan pembangkit listrik diperkirakan setara per 1 GW diperlukan 0,9 miliar USD.

Maka dengan perhitungan kasar, tidak memperhitungkan lokasi, inflasi, teknologi, kerumitan pembangunan dan lain-lain untuk pembangunan 10 GW diperlukan sekitar 9 miliar USD atau lebih, jumlah ini setara dengan 108 triliun rupiah.

Jadi subsidi listrik 1 tahun setidaknya bisa membangun 10 GW pembangkit listrik PLTA dengan hitungan kasar di atas.

Ideku untuk PLN

Tulisan singkat ini dari subyektif penulis dengan harapan coba membuka wawasan bahwa ide sederhana ini bisa memberikan pencerahan untuk solusi ketersediaan listrik nasional.

Secara ringkas dalam hal Ideku untuk PLN dari subyektif penulis ada 3 rekomendasi yang bisa diusulkan yaitu :

  1. Kelistrikan nasional perlu memfokuskan blue print pada ketersediaan listrik yang mencukupi dan bisa diandalkan bagi seluruh rakyat Indonesia termasuk kebutuhan pemukiman, industri, bisnis dan kebutuhan lainnya saat ini dan jangka panjang.
  2. Perlunya segera membangun pembangkit listrik yang pilihan jenis pembangkit listriknya prioritas murah dengan evaluasi cermat dan mendalam, agar dapat mengurangi subsidi listrik yang membebani APBN namun tetap menjaga agar masyarakat tidak terbebani dengan kenaikan listrik yang tidak wajar.
  3. Berdasarkan analisa singkat penulis sebaiknya pembangunan pembangkit listrik prioritas PLTA karena paling murah dari sisi biaya pembangkitannya diluar biaya pembangunannya. Prioritas berikutnya adalah PLTU dan PLTP.

Sekian tulisan singkat ini semoga bermanfaat buat kita semua.

Salam Blogger.

Sumber :
Wikipedia (Perusahaan Listrik Negara, Three Gorges Dam, Daftar Pembangkit Listrik,
pln.co.id (Statistik Tahun 2013)
Sepluh gagasan untuk menguatkan kembali sector energi Indonesia, tulisan tentang Global Energy & Materials, September 2014, McKinsey & Company di Indonesia.
Pembangkit Listrik Tenaga Air, Tugas Pembangkit, Melanda Devi Amanta, Program Studi Teknik Listrik, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang, 2013


TAGS PLN blog blogdetik


-

Follow Me